Hikmah
dalam Kisah Qarun
Hikmah dalam Kisah Qarun
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa.”
Qarun berasal
dari kaum Nabi Musa ‘alaihissalam.
Artinya dia berasal dari tengah-tengah masyarakat yang Nabi Musa diutus kepada mereka.
1. Qarun bukan termasuk keluarga Musa. Karena
keluarga Musa terdiri dari orang-orang yang beriman berkat dakwah dan risalah
yang dia bawa. Karena ahlun tali (keluarga)
tidak disandarkan pada kerabat yang tidak beriman.
2. Bisa jadi Qarun adalah orang yang pada awalnya
beriman dengan dakwah Nabi Musa. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan
baginya jalan untuk mendapatkan harta dan perbendaharaan-Nya dia lupa dengan
seruan yang telah diserukan kepada dirinya karena sibuk dengan kekayaan yang ia
miliki, dan kemudian dia berlaku sewenang-wenang pada kebenaran dan kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang
kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.”
1. Allah telah membukakan untuk Qarun pintu-pintu kekayaan yang luar biasa;
seperti emas, perak, dan berbagai macam barang tambang.
2. Allah menguasakan padanya ilmu dan pengetahuan
tentang cara mengumpulkan harta.
3. Allah menguasakan padanya cara mengolah dan
mengembangkan harta serta cara memelihara dan menjaganya.
4. Qarun telah mempekerjakan sekelompok pembantu
dan pengawal dalam menjaga harta dan kunci-kunci perbendaharaannya.
5. Kezaliman Qarun telah melampaui batas. Dia telah
menzalimi diri sendiri, kaumnya, dan angkuh terhadap mereka.
6. Qarun memiliki sebab-sebab yang dapat
menghantarkan dirinya pada kekayaan di bidang ekonomi hingga dia menjadi
pemimpin yang agung. Sepadan dengan kepemimpinan Fir’aun dalam hal politik.
Keduanya sama-sama memerankan monopoli pasar dan perdagangan. Memonopoli
pemikiran dan akal masyarakat umum yang lugu; yang rela begitu saja dengan
kondisi yang ada.
Firman Allah,
“(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu
terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu
membanggakan diri.”
1. Menunjukkan eksistensi para da’i yang
mengingatkan Qarun kepada Allah. Mereka semua turut serta membantu Nabi Musa
dan saudaranya Harun.
2. Perkataan mereka, “Janganlah kamu terlalu bangga.”
Artinya, jangan terlalu bangga yang berakibat pada keingkaran dan lupa akan
hak-hak Allah. Kebanggaan yang berakibat pada kezaliman dan kesewenang-wenangan
terhadap hamba; kebanggaan yang akan menyiksa dan menindas kaum fakir dan
lemah.
3. Kaum di sini adalah kaum yang telah beriman
berkat dakwah Musa ‘alaihissalam.
Mereka ingin sekali agar Qarun mendapatkan hidayah. Mereka tahu apa yang bakal
menimpa Qarun jika dia tidak beriman. Mereka adalah kelompok orang beriman yang
berbicara lantang dalam rangka merubah kondisi dan memperbaiki kerusakan yang
telah terjadi.
4. Di antara kaum tersebut terdapat orang-orang
yang belum beriman. Kezaliman Qarun telah menjadikan mereka lemah secara
materi, faqir, kelaparan, dan sakit. Kondisi tersebut merupakan akibat dari
sikap Qarun yang memonopoli perekonomian mereka. Maka ketika mereka menyaksikan
apa yang dikatakan orang-orang beriman terhadap Qarun, muncullah mental dan
keberanian mereka untuk bergabung bersama kaum mukminin.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikamatan) dunaiwi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
1. Nabi Musa ‘alaihissalam dan
saudaranya dapat membina para da’i kelas utama yang mewarisi dakwah. Mereka mengerjakan
kewajiban dakwah mereka dengan metode yang baik dan penyampaian ringkas. Dialog
mereka dengan Qarun adalah bukti terbaik akan hal ini.
2. Peringatan bagi Qarun bahwa jika dia belum
beriman, mendermakan hartanya untuk kemakmuran bumi, dan membantu orang-orang
yang membutuhkan, maka pekerjaannya merupakan pekerjaan orang-orang yang suka
membuat kerusakan.
3. Peringatan bagi Qarun agar dia seimbang dalam
menginfakkan hartanya, dengan cara berbuat baik kepada manusia sebagaimana
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berbuat baik kepadanya.
4. Menurut sangkaan dan pandangan Qarun pekerjaan
yang dia kerjakan merupakan pekerjaan orang-orang yang suka membuat perbaikan.
Tapi, di mata orang-orang yang suka membuat perbaikan, pekerjaan Qarun
adalah pekerjaan orang yang suka berbuat kerusakan. Maka jika dia meneruskan
pekerjaannya akan berakibat kerusakan di muka bumi yang akan menimpa manusia,
hewan, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati.
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena
ilmu yang ada padaku.’.”
1. Qarun sombong dengan dengan apa yang ia capai.
Ia menyatakan hal itu semata-mata karena ilmu yang ada pada dirinya. Benarkah
dia tidak pernah belajar ilmu tersebut pada seorang pun? Dia tidak mengakui hal
itu. Dia mengaku bahwa “Harta dan perbendaharaan tersebut merupakan buah dari
keseriusanku, kesungguhanku, dan kecerdasanku. Tidak ada seorang pun yang ikut
campur di dalamnya.”
2. Kecintaannya terhadap harta telah menyeretnya
pada sikap mengesampingkan pikiran sehat dan tindakan yang benar.
3. Qarun masuk dalam lingkaran orang yang kufur
nikmat, ingkar, lagi membangkang.
4. Kecintaannya pada dirinya, kseombongan,
kebesaran di depan masyarakat yang hadir.
5. Perkataannya bahwa ilmunya tidak bersandar pada
seorang pun merupakan bukti dia sombong dan tidak menghargai orang lain.
6. Kecintaannya terhadap popularitas dan kekuasaan
mencegahnya untuk mengakui akan eksistensi ilah Yang Maha
Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
7. Karena dia telah berkeyakinan bahwa harta yang
dia dapatkan adalah hasil dari ilmu yang dimilikinya, maka tidak ada seorang
pun yang berhak atasnya. “Akulah yang paling berhak untuk menggunakannya
sekehendak hatiku.” Sebagaimana perkataannya.
8. “Karena ilmu yang ada padaku. Jadi, aku berhak
untuk menjadikan manusia sebagai budak dan setiap yang ada pada mereka adalah
berkat keutamaanku.”
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah
membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak
mengumpulkan harta?”
1. Qarun mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang
berilmu. Tapi dia lupa akan sejarah, lupa akan runtuhnya kezaliman dan thaghut,
lupa apa yang telah berlaku bagi para pendahulunya, lupa tentang siksa yang
menimpa mereka akibat kekafiran dan kedurhakaannya.
2. Sebelum dia, ada orang yang lebih kuat dan lebih
banyak anggota, harta, dan ilmu. Tapi adzab dan kebinasaan menimpa mereka
karena mereka kafir.
3. Ilmu dan harta bukan penghalang dari turunnya
adzab dan kebinasaan. Tapi terkadang adzab turun karena penggunaan harta dan
ilmu bagi orang kafir.
4. Kecintaan Qarun terhadap harta telah
menjadikannya mengesampingkan pikiran sehat dan mengambil pelajaran dari
kehancuran umat-umat terdahulu akibat dari kekafiran dan kedurhakaan mereka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.”
1. Hal ini dilakukan Qarun untuk menutupi
kelemahannya di hadapan para da’i. Dia ingin memperlihatkan kekayaannya kepada
manusia. Oleh karena itu, dia keluar dengan kemegahannya; dengan emas dan
perhiasannya guna menyihir mata dan hati orang-orang yang hadir. Orang-orang
yang telah dikalahkan oleh harta dan akal mereka telah dirampas oleh harta.
2. Menunjukkan kekuatan materi dan ekonomi.
Menurutnya, dia dapat menundukkan para hadirin dan membujuk mereka, melemahkan
semangat orang-orang yang menasihatinya.
3. Sebagian besar dari kaum Nabi Musa ‘alaihissalam mempermainkan seruan Nabi Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya.
4. Qarun menginginkan hati orang-orang yang
mendukung Musa condong pada orang yang memusuhi sang nabi.
i
Firmah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Firmah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan
dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan
kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan
yang besar’.”
1. Satu bagian terbesar masyarakat yang akan
senantiasa ada di setiap zaman. Yaitu manusia yang berangan-angan agar memiliki
apa yang dimiliki oleh orang-orang kaya berupa harta dari perbendaharaannya.
2. Bagian masyarakat ini dapat dikenali dengan
kondisi imannya yang lemah, mudah goyah, dan tidak teguh dalam menghadapi
kesulitan.
3. Selain itu mereka juga dijangkiti oleh sikap
membebani diri dengan suatu hal yang diluar batas kemampuannya. Yaitu
bersikukuh untuk mendapatkan bagian kekayaan sebagaimana Qarun.
4. Mereka merasa rendah diri karena kefakiran yang
ada pada mereka atau karena lemahnya mereka di depan Qarun.
5. Mungkin hal ini merupakan ujian dari Allah untuk
menguji kaum mukminin dengan harta Qarun dan kemegahannya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang
besarlah bagimu, padahal Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman
dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang
yang sabar’.”
1. Bagian masyarakat yang lain adalah masyarakat
yang sadar akan kebenaran dan hakikatnya. Dia tahu tentang hakikat dunia dan
akhirat. Mereka adalah orang-orang yang tahu tentang hati yang sakit yang
tergantung pada cinta dunia.
2. Bagian masyarakat lain yang mengetahui bahwa
negeri akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada perbendaharaan dunia
seluruhnya, bukan hanya lebih baik dari harta Qarun saja.
3. Para da’i kaum Nabi Musa –setelah mereka
menasihati Qarun– telah menunaikan kewajiban dakwah imani mereka. Menasihati
mereka yang akal dan hatinya telah dikuasai oleh penampilan Qarun dan
kemegahannya. Mengingatkan mereka akan urgensi Iman dan amal shaleh dalam
meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
4. Bagian masyarakat lain yang mengetahui bahwa
sikap qona’ah merupakan obat terbaik untuk menyikapi
kemegahan Qarun dan hartanya.
5. Semoga peringatan ini semakin meminimalisir
jumlah orang-orang yang terjerumus ke dalam perbuatan serupa yang dilakukan
Qarun. Inilah perlunya para da’i bersandar pada penjelasan tentang urgensi amal
shaleh di dunia dan di akhirat. Menggelitik sisi keimanan di hati sebagian kaum
mukminin yang ternyata ia terlalu lemah dalam menghadap gemerlap harta yang
dimiliki Qarun.
Firman Allah,
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka
tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab Allah. dan
tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”
1. Alam ini akan berjalan sesuai dengan
sunah-sunah ilahiyah dan kauniyah Allah hingga hari kiamat.
2. Terbenamnya Qarun beserta harta kekayaannya
merupakan balasan dari amal perbuatannya yang jelek, serta balasan dari
kezaliman, kecongkakan, kesombongan, dan keingkarannya terhadap Musa dan dakwah
yang dia bawa.
3. Penolong orang-orang yang melampaui batas ketika
dia dalam keadaan lapang sangat banyak. Karena mereka adalah orang-orang yang
berserikat untuk mendapatkan keuntungan. Tapi, jika sebuah urusan sudah
berhubungan dengan akhirat maka tidak ada seorang pun kenal dengan yang lain.
Tidakkah bisa Anda saksikan bersamaku, bahwa meskipun Qarun memiliki kekuatan
dan kekayaan tidak ada seorang pun yang berani turun tangan untuk menolongnya
dari adzab yang menimpanya, meskipun hanya dengan satu kalimat.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
‘Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan
Qarun itu. Berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang
Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak
melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita
(pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat
Allah)’.”
1. Penjelasan tentang urgensi untuk saling
mengingatkan pada keimanan. Peringatan tersebut dapat menyalakan kembali bara
keimanan dalam hati saudara-saudaranya yang padam di saat mereka dilalaikan dan
lupa oleh kemegahan Qarun. Mereka kemudian kembali kepada Allah setelah mereka
menyaksikan dengan mata mereka sepak terjang dan akhir kehidupan Qarun. Mereka
yakin bahwa Allah-lah yang melapangkan rezeki-Nya bagi siapa saja yang
dikehendaki. Tidak ada hubungannya dengan unsur keberuntungan, tapi murni
menunjukkan bahwa harta bisa didapat dengan cara pengambilan sebab-sebab yang
dapat menghantarkan kepadanya. Karena Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Maha
Memberi dan Menahan rezeki. Dia memberi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan
menahan dari siapa saja yang dikehendaki-Nya dalam rangka menguji mereka.
2. Kesuksesan bagi orang-orang beriman dan
kebinasaan bagi orang-orang yang zalim. Demikianlah kondisi mereka hingga hari
kiamat kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar