إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّة
Sesungguhnya
Karun adalah Termasuk kaum Musa, Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan
Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya
sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.”
Karun sebelumnya adalah
pengikut Nabi Musa ‘alaihissalam yang
beriman. Ia juga seorang pembaca Taurat yang bersuara indah. Mayoritas ahli
tafsir menyebutkan Karun juga sepupu Nabi Musa ‘alaihissalam.
Pada saat ia beriman, kondisinya miskin dan kekurangan. Namun tatkala Allah
mengaruniakan kepadanya pundi-pundi kekayaan yang sangat banyak, ia pun menjadi
kufur, berbuat aniaya dan sombong.
Dari sini kita dapat
memetik pelajaran, bahwa keimanan harus senantiasa kita jaga dan pelihara,
jangan sampai ia rusak atau hancur sehingga kita justru berbalik arah kepada
kekafiran setelah kita beriman, wal ‘iyaadzu billah.
Selalu waspada lah dari kesesatan, karena selama kita hidup, keimanan tidak
bisa kita pastikan aman. Itu karena godaan dan ujian yang menguji keimanan kita
akan senantiasa hadir merintangi perjalanan kita kepada Allah. Berdoa kepada
Allah memohon keteguhan, menambah ilmu, bergaul dengan orang shaleh dan sabar
adalah diantara cara yang bermanfaat untuk menjaga keimanan kita.
Manusia memang cenderung berbuat melampaui batas dan aniaya,
khususnya tatkala ia merasa berkecukupan.
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى
“Ketahuilah! Sesungguhnya
manusia benar-benar melampaui batas, karena Dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al ‘Alaq: 6-7)
Oleh karena itu, kekayaan, kemapanan dan kecukupan secara khusus
perlu untuk kita waspadai. Karena semua itu menyimpan potensi yang sangat besar
menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan dan menariknya kepada perbuatan
menyimpang.
إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ
“(Ingatlah)
ketika kaumnya berkata kepadanya:”
Tatkala terjadi perubahan pada diri Karun seperti itu, para
sahabatnya berusaha menyadarkan Karun dan menasehatinya, mereka berharap agar
Karun dapat kembali kepada keadaan sedia kala yang beriman dan rajin beramal
shaleh. Para sahabatnya menunaikan kewajiban nasehat dan amar makruf nahi
munkar sebagai salah satu pilar yang menopang ajegnya perilaku manusia.
Ada lima nasehat yang disampaikan oleh mereka kepada Karun.
Nasehat ini juga penting untuk diresapi dan direnungkan oleh siapa pun,
khususnya orang-orang yang sedang diuji oleh Allah dengan kecukupan harta.
Pertama,
لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
“Janganlah kamu terlalu bangga;
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”
Mereka menasehati Karun agar tidak berbangga diri dengan harta
kekayaan yang dimilikinya, karena Allah benar-benar tidak suka orang yang
sombong. Allah bahkan tidak akan memasukkan orang yang dalam hatinya terdapat
kesombongan walaupun hanya sedikit. Kesombongan adalah kain atasan (ridaa)
Allah dan keagungan adalah kain bawahan (izaar) Allah, siapapun yang mengambil
salah satu dari keduanya dari Allah, maka Allah akan melemparkannya ke dalam
neraka.
Kedua,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ
“dan carilah pada apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.”
Mereka juga menasehati Karun agar ia mempergunakan karunia Allah
berupa kekayaan itu untuk meraih kebahagiaan akhirat kelak, bukan semata-mata
untuk kesenangan dunia saja. Harta kekayaan, selain memiliki daya tarik
tersendiri yang kerap menjerumuskan manusia kepada sikap aniaya dan dosa, ia
juga menyimpan potensi yang sangat besar menjadikan seorang hamba mulia dalam
pandangan Allah, yaitu tatkala pemiliknya mempergunakan harta tersebut untuk
kepentingan akhiratnya.
Ketiga,
وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”
Allah tentu tidak mengharamkan Karun dan siapa saja yang
memiliki harta kekayaan untuk menikmati karunia Allah tersebut selama dalam
batas-batas yang dihalalkan. Harta itu boleh ia gunakan untuk
kepentingan-kepentingan dunianya seperti makan, minum, tempat tinggal,
kendaraan, pernikahan dan lain sebagainnya. Hidup layak dengan harta kekayaan
yang Allah karuniakan sama sekali tidak menjadi masalah selama dalam
batas-batas yang dihalalkan.
Keempat,
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
berbuat baik, kepadamu,”
Mereka menasehati Karun juga untuk berbuat baik kepada sesama
dengan harta yang dimilikinya itu dengan cara menyisihkan sebagiannya untuk
saudara-saudaranya, khususnya yang kekurangan, seraya mengingatkan bahwa harta
yang dimilikinya itu juga adalah berkat kebaikan Allah kepadanya. Menjadi orang
yang berharta tidak boleh egois, pelit dan kikir. Berzakat dan bersedekah sudah
sepantasnya menjadi amalan orang berharta yang tidak boleh dilupakan.
Kelima,
وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.”
Terakhir, mereka juga
menasehati Karun agar tidak mempergunakan hartanya itu justru untuk menimbulkan
kerusakan di muka bumi dengan cara bermaksiat kepada Allah dengan fasilitas
harta itu, mendukung kezaliman dan menyokong kebatilan. Harta pada hakikatnya
milik Allah, maka manusia tidak diperkenankan menggunakan harta itu melainkan
sesuai dengan keridhaan Pemilik sebenarnya, yaitu Allah azza wa jalla.
Mendengar nasehat itu, Karun justru bertambah sombong dan kufur
nikmat. Ia mengatakan bahwa semua kekayaan yang didapatnya adalah hasil dari
ilmu dan kepandaian yang dimilikinya. Karun telah kufur nikmat dan tidak
bersyukur dengan cara menyandarkan kenikmatan yang diraihkan kepada dirinya
sendiri, bukan kepada Allah.
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
“Karun berkata: “Sesungguhnya
aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
Karun tidak menyadari, bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahakuasa.
Begitu pun Allah berkuasa mengambil seluruh kekayaan yang dimilikinya, bahkan
nyawanya sekali pun. Kesombongan memang muncul dari ketidaksadaran seorang
manusia atas kekuasaan Allah, bahwa Allah Mahaberkehendak atas segala sesuatu,
apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Allah kehendaki tidak
akan terjadi. Manusia bukan pemilik kehidupan ini. Semua urusan manusia
bergantung kepada Allah sang Khaliq. Oleh karena itu Allah mengingatkan,
أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
“dan Apakah ia tidak
mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya
yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah
perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”
Suatu hari, Karun keluar bersama iring-iringan harta kekayaannya
yang megah, lengkap dengan para pengawal dan pembantunya yang
banyak. Tujuannya untuk memamerkan kekayaannya tersebut. Orang-orang
yang menyaksikan iring-iringan ini terbagi dua:
– Orang-orang yang
menginginkan kehidupan dunia. Mereka berkata, “Moga-moga kiranya kita
mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia
benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Ini lah sikap
orang-orang bodoh dalam memandang harta, menyangka dunia adalah segala-galanya.
– Orang-orang yang
berilmu. Mereka berkata kepada kelompok pertama, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik
bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala
itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.” Beginilah sikap dan
pandangan orang yang berilmu, tidak melihat dunia sebagai tujuan hidupnya.
Mereka mencari palaha yang jauh lebih besar dari sekedar kenikmatan dunia yang
sedikit, terbatas dan sementara.
Bagaimana akhir dari lakon di Karun ini? Setelah semua berlalu
dan Karun tetap pada kesombongannya, maka Allah menurunkan azab kepadanya.
Allah membenamkan Karun beserta rumah dan kekayaannya ke dalam bumi. Tidak ada
yang dapat menolongnya dan ia pun tidak dapat menolong dirinya sendiri.
Begitulah jika Allah telah berkehendak menimpakan azab kepada seseorang, tidak
ada yang dapat menyelamatkannya selain Allah saja dan ia pun tidak akan mampu
menyelamatkan dirinya sendiri.
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
“Maka Kami benamkanlah Karun
beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang
menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang
dapat) membela (dirinya).”
Tatkala azab Allah telah menimpa Karun, barulah orang-orang yang
tadinya menginginkan harta kekayaan seperti Karun itu menyadari,
وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ
الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ
عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Aduhai, benarlah Allah
melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan
menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita
benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung
orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).”
Dan Allah pun mengingatkan,
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami
jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat
kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi
orang-orang yang bertakwa.”
Mudah-mudahan kita dapat memetik pelajaran dari kisah Karun ini.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar