Surat
Al-Qashash (surat ke-28 dalam Al-Qur'an) merupakan surat yang paling lengkap
memuat kisah perjalanan hidup Nabi Musa a.s. Diantara kisah-kisah yang
diabadikan Al-Qur’an adalah kisah Musa dengan Fir’aun, Haman dan Qarun. Satu
kisah menceritakan bagaimana Musa menghadapi arogansi dan kezaliman Fir’aun dan
Haman, sedangkan kisah yang lain menceritakan bagaimana kesabaran Musa diuji
oleh kekikiran dan kesombongan Qarun. Dua episode kisah Nabi Musa dengan ketiga
sosok manusia di atas selain menjadi ibrah (pelajaran), juga sebagai peringatan
bagi manusia bahwa ketiga karakter tersebut sangat mungkin hadir kembali di
kehidupan saat ini.
Al-Qur’an
menjelaskan bahwa Nabi Musa hidup semasa dengan ketiga orang tersebut. Allah
mengutus Musa kepada Fir’aun, seorang raja yang memiliki kekuasaan tak terbatas
di Mesir masa itu. Ia adalah raja yang kejam dan angkuh sehingga mengaku
dirinya sebagai Tuhan. Dalam surat Al-Qashash ayat 8-9 dijelaskan bahwa sewaktu
bayi Musa ditemukan oleh istri Fir’aun di Sungai lalu kemudian diangkat menjadi
anaknya. Walaupun sebagai anak angkat Fir’aun, pada akhirnya Musa berbalik
melawan Fir’aun karena kedurhakaannya kepada Allah.
Adapun
Haman merupakan orang dekat Fir'aun. Ia menempati beberapa posisi penting
kerajaan sebagai menteri dan penasehat raja (bidang keagamaan). Nama
"Haman" dalam Al-Qur'an pernah diperdebatkan oleh sebagian orientalis
karena tidak pernah tertulis dalam Taurat. Tetapi, nama Haman ditemukan di
bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang hidup
kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa.
Namun,
perdebatan itu menemui titik terang setelah ditemukannya prasasti "Batu
Rosetta" tahun 1799. Pada prasasti itu tersingkap nama "Haman"
yang menunjukkan hubungannya dengan Fir'aun. Dalam pengkajian Al-Qur'an,
diidentifikasi bahwa Haman muncul setelah kembalinya Musa dari Madyan dan mati
bersama Fir'aun dan tentaranya dalam peristiwa pelarian Bani Israel dari Mesir
(http://wikipedia.org).
Haman
adalah tipe manusia cerdas yang menggunakan ilmunya untuk mencari kekayaan dan
kedekatan dengan penguasa zalim. Haman diperintah oleh Fir'aun untuk membuat
menara yang akan digunakan Fir'aun untuk melihat Tuhan Musa (lihat Q.S. 28:
38). Haman juga yang menasihati Fir'aun untuk menolak dakwah nabi Musa dan
mengusulkan agar Fir'aun membunuh setiap pria dan menodai setiap wanita
diantara para pengikut Musa. Nama Haman disebutkan Al-Qur’an dalam beberapa
surat, diantaranya dalam surat Al-Qashash ayat 6 dan 38, surat Al-Mu'min ayat
36-37, serta surat Al-Ankabut ayat 38.
Sedangkan
Qarun adalah seorang kaum Nabi Musa dan termasuk salah seorang anak Paman Nabi
Musa. Ia dikaruniai kekayaan harta benda yang tidak terhitung jumlahnya. Ia
hidup mewah dan selalu mujur dalam usahanya mengumpulkan kekayaan. Begitu
banyak harta kekayaannya sehingga kunci-kunci gudang penyimpan hartanya sungguh
berat dipikul oleh beberapa orang pembantunya (lihat Q.S. 28: 76).
Allah
mengutus Musa kepadanya seperti kepada Fir'aun dan Haman. Nabi Musa
menyampaikan kepadanya bahwa Allah telah mewahyukan perintah berzakat bagi
tiap-tiap orang yang kaya dan berada. Tetapi Qarun menolak perintah itu dan
menuduh Musa ingin memperkaya diri melalui agama barunya. Ia dengan sombong
mengatakan bahwa harta kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri. Al-Qur’an
mengabadikan perkataan Qarun: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena
ilmu yang ada padaku” (QS. 28: 78). Akhirnya, nasib yang menimpa Qarun tidak
jauh berbeda dengan yang dialami Fir’aun dan Haman. Allah menenggelamkan Qarun
beserta hartanya ke dalam perut bumi.
Simbol
Manusia Durhaka
Allah
telah memberikan perumpamaan yang sangat jelas kepada manusia bahwa Fir’aun,
Haman dan Qarun adalah tiga tokoh yang memiliki kesesatan pada bidangnya masing-masing.
Mereka adalah simbol manusia-manusia durhaka dengan keangkuhan yang rapuh.
Fir’aun adalah simbol kekuasaan, Haman adalah simbol pengetahuan, dan Qarun
adalah simbol kekayaan. Ketiganya tenggelam ditelan laut dan bumi karena mereka
menafsirkan bahwa kekuasaan, pengetahuan dan kekayaan yang mereka miliki adalah
atas usahanya sendiri dengan menafikan keberadaan Tuhan.
Kekhawatiran
akan munculnya tokoh-tokoh berkarakter Fir’aun, Haman dan Qarun di zaman ini
semakin terbukti kenyataannya. Munculnya para pemimpin diktator, para ilmuan
dan intelektual yang menggadaikan ilmunya demi keuntungan pribadi, dan para
pengusaha yang semakin rakus dalam mengeksploitasi kekayaan negara dan rakyat
adalah tanda-tanda kemunculan Fir’aun, Haman dan Qarun abad modern. Mereka
adalah manusia yang selalu khawatir jika kekuasaan, jabatan dan hartanya akan
jatuh ke tangan orang lain sehingga dengan segala cara mempertahankan apa yang
mereka miliki.
Munculnya
penguasa-penguasa zalim yang menindas rakyatnya kini dapat kita saksikan di
berbagai belahan bumi. Khususnya di negara-negara muslim rakyatnya terus
menderita akibat perang dan penjajahan. Sejarah mencatat bagaimana umat Islam
dihabisi di Bosnia, Kosovo, Etnis Rohingya di Myanmar, Palestina dan Suriah.
Bahkan di tempat lahirnya Fir’aun sendiri di Mesir, saat ini ada ribuan
pendukung Mohammad Mursi dan anggota organisasi Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir
terancam hidupnya dengan hukuman mati dan penjara seumur hidup. Mereka dikurung
dalam ruangan kecil berkawat rapat tanpa diberi kesempatan membela diri
(Azyumardi Azra, 2014 dalam http://www.republika.co.id).
Apakah
ciri-ciri utama Fir'aun, Haman dan Qarun? Fir’aun adalah simbol penguasa
diktator. Kediktatoran mencirikan kekuasaan absolut yang selalu memahami
kebenaran berdasarkan versinya sendiri, kekuatan politik yang menteror,
bertindak sewenang-wenang, menindas kaum lemah dan menghancurkan musuh tanpa
ampun. Haman adalah simbol kecerdasan tanpa moral. Ia menggunakan pengetahuan
dan kepintarannya untuk mendapatkan kedudukan yang menguntungkan diri sendiri.
Ia adalah tipe pejabat dan inteletual yang memilah-milah ilmunya hanya untuk
menyenangkan penguasa. Sedangkan Qarun adalah simbol kekayaan. Ia adalah tipe
pengusaha sukses yang suka menumpuk harta tanpa mempedulikan nasib orang lain.
Maju
mundurnya suatu negara atau masyarakat sangat ditentukan oleh faktor-faktor
dominan seperti politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Itulah
sebabnya Islam menekankan bahwa kekuasaan harus dipegang oleh pemimpin yang
adil dan amanah. Suatu kepemimpinan akan semakin baik jika ditopang dengan
kekuatan politik dan ekonomi serta didukung oleh ulama-ulama shalih yang
berfungsi mengoreksi kebijakan-kebijakan pemimpin yang lari dari nilai-nilai
agama. Sebaliknya, jika kepemimpinan dipegang oleh penguasa yang zalim dan
tidak amanah maka rakyatlah yang paling menderita.
Hal
yang lebih mengerikan adalah jika manusia sejenis Fir’aun, Haman dan Qarun
muncul bersamaan di masa kini, lalu bersekongkol dan berkoalisi untuk menguasai
suatu negara. Ketika penguasa zalim, pengusaha serakah dan intelektual (ilmuan)
jahat telah berkolusi untuk mengelabui dan menindas rakyat maka kerusakan dan
kehancuran suatu masyarakat tinggal menunggu waktu. Semoga pemilihan presiden
dan wakil presiden Indonesia mendatang tidak menghasilkan pemimpin yang
berkarakter seperti ketiga manusia di atas.***
Rahmat Mulyadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar